Jakarta — Permintaan terhadap infrastruktur data center terus meningkat. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) pun mempercepat ekspansi kapasitas pusat data, salah satunya di Cikarang, Jawa Barat.
Data center Telkom di Cikarang saat ini memiliki kapasitas efektif 15,5 megawatt (MW) dengan tingkat okupansi mencapai 96%. Bahkan, kapasitas yang masih dalam tahap pengembangan telah terserap atau fully leased.
Direktur Enterprise & Business Service Telkom, Veranita Yosephine, mengatakan tingginya permintaan tersebut mendorong perseroan untuk terus menambah kapasitas data center, baik di Cikarang maupun Batam.
“Cikarang data center memiliki kapasitas efektif 15,5 MW dengan okupansi 96 persen. Dan secara keseluruhan telah fully leased termasuk kapasitas yang masih dalam pengembangan,” ujar Veranita dalam Public Expose 2026 yang digelar secara daring, Senin (7/9/2026).
Telkom menargetkan kapasitas data center Cikarang tahap pertama mencapai 21,5 MW. Sementara pembangunan tahap kedua direncanakan mulai dilakukan pada 2027.
“Kedepannya kami terus menambah kapasitas secara disiplin, Cikarang tahap satu akan mencapai 21,5 MW, sementara tahap dua direncanakan mulai pada 2027,” katanya.
Tak hanya di Cikarang, Telkom juga memperluas kapasitas data center di Batam. Batam Data Center memiliki kapasitas awal 6 MW dan diproyeksikan mulai beroperasi pada semester II-2026.
Kapasitas tahap pertama data center Batam kemudian ditargetkan meningkat menjadi 18 MW pada 2027. Di sisi lain, Singapore Data Center milik Telkom mencatat tingkat okupansi sebesar 90%.
Veranita menegaskan bisnis data center menjadi salah satu area pertumbuhan strategis Telkom Group. Perseroan melihat peluang tidak hanya di pasar Indonesia, tetapi juga untuk ekspansi bisnis secara regional.
“Bisnis data center merupakan salah satu area pertumbuhan strategis Telkom Group, dengan posisi yang kuat di Indonesia dan peluang untuk berkembang secara regional,” ujarnya.
Untuk mempercepat pertumbuhan, Telkom tidak hanya mengandalkan pembangunan kapasitas secara organik. Perseroan juga terus mengevaluasi peluang kemitraan strategis atau strategic partnership.
Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat ekspansi sekaligus mengoptimalkan nilai dari platform data center yang dimiliki Telkom Group.
“Selain pertumbuhan organik, kami juga terus mengevaluasi peluang strategic partnership untuk mempercepat pertumbuhan sekaligus membuka nilai dari platform data center Telkom Group,” kata Veranita.
Ekspansi tersebut sejalan dengan pertumbuhan bisnis Telkom Data Ecosystem. Pada semester I-2026, pendapatan bisnis tersebut mencapai Rp867 miliar, tumbuh 11% secara tahunan (year on year/yoy) dan meningkat 17% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Dari sisi kapasitas, total kapasitas efektif data center Telkom Group saat ini mencapai 49,9 MW. Pelanggannya berasal dari berbagai segmen, mulai dari global cloud providers, lembaga keuangan, perusahaan teknologi, hingga pelanggan enterprise.
Kinerja Telkom Semester I-2026
Di tengah ekspansi bisnis infrastruktur digital, Telkom juga mencatat pertumbuhan kinerja keuangan pada semester I-2026.
Pendapatan konsolidasi Telkom Group tumbuh 3,9% secara tahunan menjadi Rp75,9 triliun. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra, mengatakan pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh optimalisasi monetisasi bisnis selular serta peningkatan kinerja sejumlah sektor infrastruktur.
Telkomsel masih menjadi kontributor utama pendapatan perseroan. Pada semester I-2026, pendapatan Telkomsel tumbuh 3,3% menjadi Rp55,6 triliun.
“Pendapatan konsolidasi tumbuh 3,9 persen secara tahunan menjadi Rp75,9 triliun. Hal ini didukung terutama oleh perbaikan monetisasi bisnis selular serta pertumbuhan pada sejumlah bisnis infrastruktur. Telkomsel tetap menjadi kontributor utama dengan pendapatan tumbuh 3,3 persen menjadi Rp55,6 triliun,” ujar Arthur.
Peningkatan monetisasi yang dibarengi disiplin biaya turut menopang kinerja Telkomsel. EBITDA Telkomsel tercatat tumbuh 8,6%, sementara margin EBITDA meningkat 230 basis poin menjadi 46,9%.
Pada segmen B2B infrastruktur, gross revenue tumbuh 19% menjadi Rp33,1 triliun. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang oleh bisnis menara telekomunikasi dan data center.
Utilisasi aset juga menunjukkan tren positif. Tenancy ratio bisnis tower meningkat menjadi 1,57 kali, sedangkan tingkat okupansi data center mencapai 88%.
“Tenancy ratio di business tower meningkat menjadi 1,57 kali, sementara okupansi data center mencapai 88 persen yang mencerminkan utilisasi aset yang semakin baik,” kata Arthur.
Namun, tidak seluruh lini bisnis mencatat pertumbuhan. Segmen B2B ICT masih menghadapi tekanan dengan pendapatan Rp8,8 triliun atau turun 5,4% secara tahunan.
Penurunan tersebut dipengaruhi proses streamlining sejumlah anak perusahaan serta melemahnya belanja pemerintah.
Meski demikian, sejumlah bisnis prioritas masih tumbuh. Pendapatan SMI meningkat 11,5%, sementara jumlah pelanggan IndiBiz bertambah 11,7% menjadi 756.000 pelanggan.
Sementara itu, bisnis internasional Telkom mencatat pendapatan Rp6,3 triliun. Sekitar 91% dari pendapatan tersebut berasal dari pelanggan eksternal.
Telkom juga terus menggeser portofolio bisnis internasional ke layanan konektivitas bernilai lebih tinggi, termasuk kabel laut internasional, sembari mengurangi ketergantungan pada bisnis international voice.
Strategi tersebut mulai memberikan hasil. Pendapatan external connectivity tumbuh 18%, sementara pemanfaatan kapasitas jaringan internasional meningkat 25%. Pendapatan layanan International Private Leased Circuit (IPLC) juga tumbuh lebih dari 41%.
Sejalan dengan strategi tersebut, Telkom meningkatkan alokasi belanja modal atau capital expenditure (CAPEX) untuk bisnis internasional.
“Fokus kami adalah mengoptimalkan infrastruktur, meningkatkan kualitas portfolio enterprise, dan memperbesar kontribusi konektivitas internasional yang bernilai tinggi,” ujar Arthur.
Target Telkom hingga Akhir 2026
Dengan pencapaian pada semester I-2026, Telkom mempertahankan guidance kinerja untuk sepanjang 2026.
Pertumbuhan pendapatan hingga semester I-2026 tercatat 3,9%. Capaian tersebut menjadi salah satu pijakan perseroan untuk mengejar target pertumbuhan normalized revenue sebesar 1%-3% hingga akhir tahun.
Sementara itu, margin EBITDA pada semester I-2026 berada di level 49,4%, sedikit di bawah target perseroan yang berada di atas 50%.
Meski demikian, tren pada kuartal II-2026 menunjukkan perbaikan. Margin EBITDA pada kuartal tersebut telah kembali berada di atas 50%.
“Kami akan terus menjaga disiplin biaya dan kualitas pertumbuhan untuk mendukung pencapaian target sepanjang tahun 2026,” ungkap Arthur.
Dari sisi investasi, rasio CAPEX terhadap pendapatan mencapai 14,2% pada semester I-2026. Dengan mempertimbangkan rencana investasi pada semester II-2026, termasuk kebutuhan spektrum, Telkom tetap mempertahankan target rasio CAPEX terhadap pendapatan sepanjang 2026 di kisaran 17%-19%.
Perseroan menyatakan akan tetap disiplin dalam mengeksekusi investasi sekaligus mencermati berbagai risiko eksternal, termasuk dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi biaya input.
Ekspansi data center di Cikarang dan Batam menjadi bagian dari strategi Telkom untuk menangkap pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital. Dengan okupansi yang telah tinggi di sejumlah fasilitas, penambahan kapasitas dinilai menjadi langkah penting untuk memenuhi kebutuhan pelanggan sekaligus memperkuat posisi Telkom di bisnis data center regional.












