JABARAKTUAL.COM, BANDUNG — Artificial Intelligence (AI) semakin mengubah cara manusia bekerja. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk membuat konten atau mencari informasi, tetapi mulai masuk ke proses analisis data, layanan pelanggan, pemrograman hingga pengambilan keputusan.
Laporan PwC AI Jobs Barometer 2026 menunjukkan lowongan yang membutuhkan keterampilan AI tumbuh 69 persen, jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan yang mencapai 9 persen.
Pada saat yang sama, pekerja dengan keterampilan AI memperoleh rata-rata premi upah sebesar 62 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak semata-mata menghilangkan pekerjaan. Teknologi ini juga mengubah jenis keterampilan yang dibutuhkan.
Pekerjaan yang sebelumnya banyak diisi tugas rutin berpotensi semakin terotomatisasi. Sebaliknya, keterampilan seperti pengambilan keputusan, kreativitas, kepemimpinan dan kemampuan beradaptasi semakin penting.
Di Indonesia, 69 persen pekerja yang disurvei PwC menyatakan telah menggunakan AI untuk pekerjaan mereka dalam satu tahun terakhir. Namun, pengguna harian GenAI baru mencapai 16 persen.
Artinya, tantangan dunia kerja bukan hanya apakah AI akan menggantikan manusia, tetapi apakah manusia mampu menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas.
Perusahaan perlu menyiapkan reskilling dan upskilling, sementara pekerja perlu membangun kemampuan baru agar dapat bekerja berdampingan dengan teknologi.
Pada akhirnya, AI kemungkinan besar tidak menggantikan seluruh pekerjaan manusia. Namun, cara manusia bekerja akan berubah secara signifikan.


